Kamis, 27 Maret 2014

KRISIS POLITIK DI UKRAINA

KRISIS POLITIK DI UKRAINA

Dampak krisis Ukraina
Selama ini, Cina tidak ingin berpihak dalam krisis di Ukraina. Ditanya wartawan tentang sikap Cina terhadap referendum di Krimea, wakil menlu Cina Li Baodong tidak mau mengambil posisi membela atau menolak. “Kami harap, semua pihak tetap berkepala dingin dan mencari solusi politik,” katanya dan menambahkan, eskalasi selanjutnya harus dicegah.
Dalam siding Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi di Ukraina, Cina mengambil posisi netral. Dari 15 anggota Dewan Keamanan, 13 negara setuju resolusi mengecam referendum Krimea. Rusia menggunakan hak veto dan menolak, sedangkan Cina memberi suara abstain. Banyak pengamat menilai, suara abstain Cina adalah “tamparan” terhadap Rusia, yang kini terisolasi di Dewan Keamanan.
Secara ekonomi, krisis di Ukraina bisa menguntungkan Cina. Karena jika barat menetapkan sanksi ekonomi terhadap Rusia, Beijing bisa jadi alternatif penting. Rusia terpaksa harus meningkatkan hubungan ekonomi dengan Cina. "Rusia harus berpaling dari Eropa, jadi Cina yang akan jadi pemenang dalam krsisis ini", kata Eckhardt Cordes dari Asosiasi Ekonomi Jerman untuk wilayah timur.
Di bidang ekonomi, Cina juga punya hubungan baik dengan negara-negara barat. Jadi dalam krisis Ukraina, Cina memang bisa menjadi pemain yang netral. Akhir Maret mendatang, Presiden Cina Xi Jinping akan melakukan kunjungan ke beberapa negara Eropa.




Selain itu ditengah krisis politik Ukraina harga emas bertahan dalam penguatan terbatas disesi Eropa terdorong oleh aksi pembelian oleh investor seiring masih memanasnya situasi di Ukraina. Emas naik untuk hari kedua meski terbatas. Emas untuk pergerakan hari ini naik sebesar 0.3% menjadi $1315 per onz dan saat ini bergerak di kisaran $1313 per onz. wib. Harga emas kemarin turun menjadi $1305, yang merupakan level terendah sejak tanggal 14 Februari, sebelum di tutup lebih tinggi 0.2% dilevel $1311,05
Emas bertahan di atas pergerakan rata-rata selama 200 hari di $1297  kemarin, sinyalkan dukungan untuk beberapa investor. Harga emas naik sebesar 8.9% pada tahun ini atas tanda-tanda bahwa perekonomian global mulai goyah, sementar itu aneksasi Crimea oleh Rusia telah memicu konfrontasi paling serius dengan Barat sejak Perang Dingin. “Pergerakan rata-rata 200 hari hanya di bawah $1.300/onz, jadi secara basis teknikal itu akan mendukung harga emas,” kata Victor Thianpiriya, seorang analis di Australia & New Zealand Banking Froup Ltd. di Singapura. “ Masalah Ukraina dan Rusia juga berikan sedikit dukungan atas safe haven.”
Namun secara jangka panjang emas masih bakal terus tertekan oleh dollar seiring kebijakan Fed untuk mengurangi stimulus hingga akhir tahun ini akan mengalihkan minat terhadap logam mulia.

DAFTAR PUSTAKA          :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar