Senin, 03 Desember 2012

PENGARUH SISTEM EKONOMI DUNIA TERHADAP BISNIS DI INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN

Sistem ekonomi dunia akan selalu menjadi isu hangat untuk dibahas dan dilihat perkembangannya. Dari berbagai macam jenis sistem ekonomi yang timbul seperti ekonomi terpimpin, ekonomi pasar, dan ekonomi pasar campuran. Hal-hal lainnya yang berkaitan adalah seperti faktor produksi yang mencakup tenaga kerja, modal, wirausaha, sumber daya fisik dan sumber daya informasi. Keterkaitan sistem ekonomi juga dapat dikesinambungan dengan bisnis.
Sistem ekonomi di Indonesia yaitu ekonomi pancasila, sebenarnya merupakan sistem ekonomi yang sangat baik digunakan pada era globalisasi seperti saat ini karena mampu meredam arus globalisasi dan kapitalisme dengan caranya yang lebih mementingkan kesejahteraan ketimbang laba semata. Ekonomi pancasila menunjukkan ekonomi yang adil tanpa eksploitasi dan penindasan, serta mengharuskan penghargaan atas keberagaman, karena keberagaman itu sendiri membutuhkan desentralisasi dan otonomi.

BAB II
PEMBAHASAN
PENGARUH SISTEM EKONOMI DUNIA TERHADAP
BISNIS DI INDONESIA

1.      SISTEM EKONOMI DUNIA
Sistem ekonomi merupakan sistem Negara untuk mengalokasikan sumber daya ke berbagai warga negaranya, baik individu maupun organisasi. Sistem ekonomi berbeda berdasarkan cara memiliki dan mengendalikan lima faktor produksi (sumber daya dasar yang digunakan dunia bisnis Negara tertentu untuk memproduksi barang dan jasa), yakni :
a.       Tenaga Kerja atau Sumber Daya Manusia
Kemampuan fisik dan mental banyak orang sewaktu mereka berkontribusi pada produksi yang ada pada perekonomian. Sumber daya manusia juga seing didefinisikan sebagai orang-orang yang bekerja untuk bisnis dengan memberikan tenaga dan kemampuannya dalam bekerja.
b.      Modal
Adalah dana yang dibutuhkan untuk memulai suatu bisnis dan menjaganya agar tetap beroperasi dan tumbuh dengan baik. Modal juga dapat mencakup suatu nilai pasar atau nilai saham suatu perusahaan. Penerimaan dari penjualan produk juga merupakan sumber modal yang penting.
c.       Wirausahawan
Adalah suatu individu yang menanggung resiko dan peluang termasuk menciptakan dan mengoperasikan suatu bisnis yang baru. Kebanyakan sistem perekonomian selalu mendorong dan membimbing para wirausahawan untuk memulai bisnis baru sekaligus mengambil keputusan yang mengubah bisnis kecil menjadi bisnis besar sehingga berkapasitas untuk berubah menjadi suatu pasar yang baru.
d.      Sumber Daya Fisik
Adalah hal-hal berwujud yang dapat digunakan oleh organisasi dalam melaksanakan suatu bisnis mereka. Sumber-sumber daya fisik meliputi, sumber daya alam, fasilitas, suku cadang dan perlengkapan serta peralatan-peralatan lain.
e.       Sumber Daya Informasi
Merupakan suatu atau beberapa data atau informasi lain yang digunakan oleh bisnis. Produksi barang-barang berwujud dulu pernah mendominasi kebanyakkan sistem ekonomi, namun saat ini sumber daya informasi memakai peranan utama. Hal ini disebabkan karena bisnis saat ini sangat bergantung pada prediksi pasar, orang-orang dengan keahlian tertentu, serta berbagai data ekonomi yang digunakan untuk membantu bisnis mereka.

2.      JENIS-JENIS SISTEM EKONOMI
Jenis sistem ekonomi yang berbeda akan mengelola factor-faktor produksi dengan cara-cara yang berbeda pula. Pada beberapa sistem, kepemilikkannya bersifat pribadi, yang lain adalah faktor produksi dimiliki oleh pemerintah. Oleh sebab itu, kebanyakan sistem ekonomi berada diantara kedua ektreminasi tersebut.
Sistem ekonomi juga dapat dibedakan menurut cara-cara pengambilan keputusannya dalam hal produksi dan alokasi. Berikut ini penjelasaan mengenai jenis-jenis sistem ekonomi yang ada di dunia :
a.       Perekonomian Terpimpin
Dalam sistem ini terdapat dua bentuk paling dasar yaitu komunisme dan sosialisme. Menurut Karl Marx seorang ekonom Jerman abad ke-19, komunisme adalah suatu sistem dimana pemerintah memiliki dan juga mengoperasikan seluruh faktor produksi yang tersedia. Sedangkan sosialisme merupakan sebagian dari sistem perekonomian terpimpin. Jadi dapat sosialisme adalah sistem ekonomi terpimpin dimana pemerintah hanya dapat memiliki dan menjalankan sumber produksi utama terpilih.
b.      Perekonomian Pasar
Perekonomian pasar mengandalkan kapitalisme dan perusahaan bebas untuk menciptakan lingkungan dimana para produsen dan konsumen bebas untuk menjual dan membeli apa yang mereka pilih (dalam batas tertentu). Dalam perekonomian pasar, dikenal juga istilah Swastanisasi. Swastanisasi adalah proses perubahan perusahaan pemerintah menjadi perusahaan milik swasta pada tahun-tahun terakhir ini, praktek swastanisasi ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia.
Dasar politis dari proses pasar disebut kapitalisme. Proses ini sangat berlawanan dengan proses perekonomian terpimpin. Jadi dapat disimpulkan, kampitalisme adalah perekonomian pasar yang memberikan kepemilikan produksi pribadi dan yang mendorong kewirausahaan dengan menawarkan laba sebagai insentif.
c.       Perekonomian Pasar Campuran (Mixed Market)
Kebanyakan Negara mengandalkan beberapa bentuk Perekonomian Pasar Campuran yang menonjolkan sifat-sifat baik perekonomian terpimpin maupun perekonomian pasar. Jadi perekonomian pasar campuran adalah sistem ekonomi yang menonjolkan sifat-sifat perekonomian terpimpin maupun perekonomian pasar.

3.      KONDISI BISNIS DI INDONESIA
Dewasa ini, bisnis di Indonesia berkembang cukup pesat, meskipun mungkin tingkat penyebarannya masih belum seratus persen tercapai namun tingkat investasi di Indonesia sudah dapat dikatakan maju. Hal ini dapat dilihat dari indeks saham yang selalu memiliki kenaikan setiap kwartalnya. Bahkan bursa saham kita, lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan Malaysia.
Kondisi bisnis Indonesia kedepannya diperkirakan akan semakin meningkat dan semua sektor juga akan semakin membaik, kecuali lembaga keuangan atau persewaan atau jasa perusahaan.
Badan Pusat Statistika juga melaporkan bahwa kesenjangan ekonomi yang terjadi antara penduduk di Indonesia semakin tipis. Hal itu terlihat dari semakin tipis dan mengecilnya indeks Williamson secara nasional, meski pulau Jawa tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Kondisi bisnis di Indonesia itu juga di pengaruhi oleh sistem ekonomi yang berlaku dan dianut oleh Indonesia. Hal itu menunjukan bahwa sistem ekonomi akan mempengaruhi kinerja bisnis di suatu Negara. Sistem ekonomi merupakan pengatur dari bisnis yang akan dijalankan.

4.      SISTEM EKONOMI DI INDONESIA
Sistem ekonomi pasti dimiliki oleh suatu Negara yang akan mengatur perekonomian serta perkembangan bisnis di Negara tersebut. Oleh sebab itu, Indonesia pun memiliki sistem ekonomi yang saat ini dinamakan sebagai sistem ekonomi demokrasi pancasila.
Sistem ekonomi ini menitikberatkan pada ideologi bangsa yang menjujung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila serta mengikuti pandangan hidup bangsa yang demokratis. Sistem demokratis pancasila yang dianut oleh bangsa Indonesia terangkum dalam undang-undang pasal 33 ayat satu sampai tiga.
Sistem ekonomi demokrasi pancasila ini memiliki empat cirri utama dan yang paling menonjol, berikut ciri-ciri sistem ekonomi demokrasi pancasila :
a.       Yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah Negara atau pemerintah
b.      Peran Negara dianggap penting namun tidak mendominasi dalam pengambilan keputusan produksi atau alokasi. Sehingga dalam hal ini, sistem ekonomi demokrasi pancasila tidak menganut sistem liberal ataupun ekonomi terpimpin, karena pihak-pihak tersebut harus berjalan beriringan, berdampingan secara damai dan mendukung satu sama lainnya.
c.       Modal atau kinerja buruh juga tak mendominasi karena perekonomian pancasila didasari atas asas kekeluargaan anatar sesama pelaku ekonomi
d.      Masyarakat adalah bagian yang penting dimana kegiatan produksi dilakukan oleh semua untuk semua serta dipimpin dan diawasi oleh masyarakat.
Dalam hal ini, sistem ekonomi pancasila harus menjauhkan diri dari sistem liberal dan sistem terpimpin karena telah terbukti menyengsarakan kaum yang lemah serta mematikan potensi orang-orang yang kreatif. Pesaingan usaha pun harus selalu terus-menerus diawasi pemerintah agar tidak merugikan pihak-pihak yang berkaitan.
Namun pada kenyataan penerapan ekonomi itu tidak berjalan dengan baik sehingga berpengaruh pada bisnis yang berjalan di Indonesia. Perekonomian kita justru dikuasai oleh pihak asing dan Indonesia hanya menjadi penonton dalam kemajuan bisnis di negaranya sendiri.

BAB III
KESIMPULAN

Sistem perekonomian merupakan sistem yang digunakan sebagai pengatur dalam tata jalan perekonomian suatu Negara, termasuk didalamnya bisnis. Suatu wilayah Negara pasti memiliki sistem ekonomi yang berbeda sehingga berjalannya bisnis di Negara-negara pun menjadi berbeda dan memiliki cirri khas tersendiri.
Sistem ekonomi di Indonesia yaitu ekonomi pancasila, sebenarnya merupakan sistem ekonomi yang sangat baik digunakan pada era globalisasi seperti saat ini karena mampu meredam arus globalisasi dan kapitalisme dengan caranya yang lebih mementingkan kesejahteraan ketimbang laba semata. Ekonomi pancasila menunjukkan ekonomi yang adil tanpa eksploitasi dan penindasan, serta mengharuskan penghargaan atas keberagaman, karena keberagaman itu sendiri membutuhkan desentralisasi dan otonomi. Sedangkan, otonomi hanya dapat dikembangkan secara produktif dan memberi manfaat jika ada keadilan.
Jadi Indonesia harus kembali mengambil alternative perekonomian kerakyatan. Dimana, kesejahteraan rakyat adalah hal yang utama dan mengabaikan intervensi dari pemodal asing yang justru memasukkan bangsa ini kedalam perekonomian pasar.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Jumat, 16 November 2012

AUTISME


BAB I
PENDAHULUAN

Dalam bidang kesehatan kita sering mendengar kata autisme atau autis yang belakangan ini menjadi kata yang populer untuk dibicarakan dan diperbincangkan bukan hanya oleh para dokter, pendidik, dan orang tua saja. Namun, orang awam pun banyak yang tertarik medengar kata ini. Seiring dengan berkembangnya kata tersebut di masyarakat, semakin banyak pula anak yang menyandang penyakit autisme. Prevalesi autisme meningkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak.
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia 3 tahun. Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak memperdulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autisme juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1.


BAB II
PEMBAHASAN
AUTISME

1.      PENGERTIAN AUTISME
Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autisme seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Istilah autisme baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak berabad-abad lampau (Handjono, 2003).
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron – Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang :
1. Interaksi sosial
2. Komunikasi (bahasa dan bicara)
3. Perilaku-emosi
4. Pola bermain
5. Gangguan sensorik dan motorik
6. Perkembangan terlambat atau tidak normal
Gejala ini mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu :
1.      Autistic Disorder (Autism)
Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkam adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2.      Asperger’s Syndrome
Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3.      Pervasive Development Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS)
Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4.      Rett’s Syndrome
Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran atau kehilangan kemampuan yang dimilikinya, kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5.      Childhood Disintegrative Disorder (CDD)
Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosis Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998:79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidak mampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.

2.      GEJALA-GEJALA AUTISME
Anak-anak penyadang spektrum autisme biasanya memperlihatkan setidaknya setengah dari daftar tanda-tanda yang disebutkan di bawah ini. Gejala-gejala autisme dapat berkisar dari ringan hingga berat dan intensitasnya berbeda antara masing-masing individu.
Hubungi profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme, jika anda mencurigai anak anda memperlihatkan setidaknya separuh dari gejala-gejala ini :

Sulit bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

Tertawa atau tegelak tidak pada tempatnya.

Tidak pernah atau jarang sekali kontak mata.

Tidak peka terhadap rasa sakit.

Lebih suka menyendiri, sifatnya agak menjauhkan diri.

Suka benda-benda yang berputar / memutarkan benda.
Ketertarikan pada satu benda secara berlebihan.
Hiperaktif/melakukan kegiatan fisik secara berlebihan atau malah tidak melakukan apapun (terlalu pendiam).
Kesuliatan dalam mengutarakan kebutuhannya, suka menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan daripada kata-kata.
Menuntut hal yang sama, menentang perubahan atas hal-hal yang bersifat rutin.
Tidak peduli bahaya.
Menekuni permainan dengan cara aneh dalam waktu lama.
Echolalia (mengulangi kata atau kalimat, tidak berbahasa biasa).
Tidak suka dipeluk (disayang) atau menyayangi.
Tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata, bersikap seperti orang tuli.
Tidak berminat terhadap metode pengajaran yang biasa.
Tentrums (suka mengamuk/memperlihatkan kesedihan tanpa alasan yang jelas).
Kecakapan motorik kasar/motorik halus yang seimbang (seperti tidak mau menendang bola namun dapat menumpuk balok-balok).

Catatan : daftar di atas bukan pengganti diagnosa. Hubungi professsional yang ahli untuk memperoleh diagnosa lengkap.

3.      10 JENIS TERAPI AUTISME
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1.      Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian dan di desain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2.      Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam berbicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistik yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Dengan hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong para autisme.
3.      Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pensil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.
4.      Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5.      Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam keterampilan berkomunikasi dua arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
6.      Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7.      Terapi Perilaku
Anak autistik seringkali merasa frustasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspesikan kebutuhannya, mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
8.      Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik.
9.      Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/ visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS (Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.
10.  Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan mengemukakan bahwa gejala-gejala anai ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Ternyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).


BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa autisme adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan bervariasi (spectrum), biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain. Gejala gangguan perkembangan ini sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia 3 tahun dan dapat terjadi  oleh siapa pun tanpa memandang ras, suku, stara-ekonomi, stara sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan.
Gangguan Spectrum Autisme dapat menjalani terapi, yaitu Applied Behavioral Analysis (ABA), terapi wicara, terapi okupasi, terapi fisik, terapi sosial, terapi bermain, terapi perilaku, terapi perkembangan, terapi visual, dan terapi biomedik. Namun, apapun jenis terapi yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKA